Menjadi Interviewer Kerja yang Handal

2013-03-27 11:35

 

 Oleh: Syahrifa Yulia Nurmalasari 

Interview dan psikotes bukanlah barang baru di dunia kerja. Tujuan dari kedua bentuk tes ini adalah untuk menyeleksi pelamar pekerjaan. Hampir bisa dipastikan dalam setiap penrimaan pegawai baru pasti ada kedua tes ini, bisa interview terlebih dahulu baru psikotes atau psikotes dulu baru interview, tergantung kebijakan HRD dari masing-masing perusahaan.

Anda pasti sudah hafal seluk beluk kedua tes ini, sudah banyak pula tips-tips yang meguraikan cara-cara jitu untuk sukses dalam psikotes maupun interview. Interview merupakan proses menggali informasi untuk mengetahui kepribadian, sikap, prestasi, dan verifikasi hasil psikotes. Dalam interview keduah belah pihak; interviewer dan interviewee saling bertemu berhadapan secara langsung sehingga pewawancara mengetahui bahasa tubuh, ekspresi bahkan ketidakpercayaan interviewee secara spontan.

Banyak yang mengatakan kesan pertama yang Anda tinggalkan pada pewawancara merupakan kunci sukses dari sebuah wawancara. Kesan yang Anda berikan kepada pewawancara baik kesan negatif maupun positif berpengaruh terhadap pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan. Bila Anda memberikan kesan negatif, maka Anda akan merasa grogi atas apa yang sudah Anda ‘berikan’ kepada pewawancara.

Anda masih ingat dengan ungkapan ‘kesan pertama begitu menggoda’? Sama pula pada saat wawancara. Pada sesi ini, sering pewawancara terkecoh dengan kesan pertama yang diberikan oleh interviewee. Mereka sering tertipu dengan penampilan, komunikasi, serta perilaku interviewee sehingga mereka menerima para pelamar kerja berdasarkan kesan pertama serta intuisi mereka bukan karena kompetensi mereka akibatnya posisi yang kosong diisi oleh orang yang tidak kompetent di bidang yang dibutuhkan.

Pada saat interview semua interviewee memperhatikan setiap detail baik pakaian, ucapan, maupun sikap. Semuanya pasti ingin sukses dalam wawancara apalagi jika posisi yang ditawarkan sesuai dengan pilihannya dan juga bidang studinya. Umumnya pada setiap wawancara, para interviewee ingin memberikan penampilan terbaikny.  Oleh karena itu, biasanya mereka menyiapkan segala sesuatunya secara matang, seperti hal-hal berikut:

1.    Pakaian. Setiap interviewee yang datang untuk wawancara pasti memakai pakaian kerja formal yang disesuaikan dengan perusahaan yang mereka lamar. Mereka biasanya terlebih dahulu mencari informasi tentang perusahaan yang mereka lamar baik lewat internet maupun tanya kepada teman sebelum hari wawancara dilakukan.

2.    Hal-Hal Sepele Selama Wawancara.  Dalam wawancara, selain pakaian yang digunakan, interviewee memperhatikan juga sikap mereka. Mereka memperhatikan sikap duduk, kontak mata dan juga mengatur perkataan mereka. Mereka melakukan ini agar ucapan mereka diperhatikan oleh interviewer.

3.    Pengetahuan Tentang Perusahaan dan Posisi yang Dilamar.  Umumnya selain menanyakan kepribadian interviewee, minat dan tujuan karirnya, pewawancara akan menanyakan tentang perusahaan dan posisi yang dilamar untuk mengetahui seberapa jauh pengetahuan interviewee serta seberapa paham dengan posisi yang dilamar.

Sebagai interviewer, pastinya Anda sudah sangat hafal dengan seluk beluk wawancara, namun ada baiknya Anda terus belajar dan belajar, memperbarui metode yang Anda gunakan untuk wawancara. Walaupun mewawancarai orang adalah ‘makanan’ Anda sehari-hari, alangkah baiknya jika Anda menyiapkan segala sesuatu sebelum acara dimulai, memperhatikan sesuatu selama dan sesudah wawancara. Hal-hal yang harus Anda perhatikan untuk memaksimalkan kemampuan Anda sebagai interviewer adalah:

1.    Persiapkan draft pertanyaan untuk memastikan Anda sudah menanyakan semua aspek baik tentang kepribadian, posisi yang ditawarkan, maupun tentang perusahaan.

2.    Berhati-hatilah dengan kesan pertama yang tercipta. Janganlah langsung menilai interviewee layak untuk diterima kerja dalam beberapa menit namun kajilah lebih mendalam.

3.    Bacalah surat lamaran dan resume sebelum interview berlangsung dengan baik dan gunakan pertanyaan terbuka untuk mengklarifikasi resume.

4.    Gunakan suatu alat bantu misalnya metode behavioral event interview untuk memprediksi perilaku interviewee di masa mendatang berdasarkan perilaku di masa lampau dengan memperhatikan komponen situasi, tindakan, dan hasilnya.

5.    Jika Anda adalah junior interviewer, sebaiknya mencari pendamping yang lebih senior untuk menjaga netralitas.

6.    Bersikaplah seprofesional mungkin baik pakaian, waktu, maupun pertanyaan yang Anda ajukan.

Walaupun sudah menjadi rutinitas Anda, sebaiknya tidak mengabaikan hal-hal kecil.  Sebuah kesuksesan yang sangat berarti jika Anda berhasil mendapatkan kandidat yang mempunyai kompetensi sesuai dengan posisi yang dibutuhkan serta mempunyai sikap dan karakter yang baik.   Selamat menjadi interviewer yang handal.