Pengaruh Pola Asuh pada Anak

2013-02-08 16:00

Penulis: Ari Pratiwi

“Bu, saya mau tanya. Bagaimana mencegah anak berbohong? Kemarin pas di rumah neneknya, anak saya marahi karena nakal pada adiknya dan dia langsung menangis. Nenek datang dan bertanya diapakan sama ibumu.Dia bilang saya cubit, padahal saya sama sekali tidak mencubit. Kenapa anak saya bisa bicara seperti itu?”

Sms ini datang dari salah satu klien saya yang minggu sebelumnya telah bertemu saya dan saya juga telah memperingatkannya tentang akibat perbedaan pola asuh nenek dan orangtua.

Perbedaan pola asuh siapa saja yang bisa berpengaruh pada anak?
Ya semuanya…ayah dengan ibu, kakek dengan nenek, orangtua dengan kakek-nenek, orangtua dengan pengasuh (baby sitter atau significant other lainnya)
Terkadang ayah terlalu keras pada anak, tapi ibu selalu membela anak di depan ayah. Di sisi lain, orangtua sudah satu suara setuju melarang anak nonton TV pada jam tertentu tapi ternyata kakek datang dan mengajak menonton TV pada jam tersebut. Atau anak yang dilarang makan makanan tertentu, saat pergi ke rumah kakek-nenek mengatakan boleh makan makanan tersebut.

Perbedaan pola asuh tidak hanya membuat anak bingung, siapa yang harus diturutinya. Namun juga dapat membuat anak belajar berbohong dan belajar manipulatif. Seperti pada kasus ini, anak belajar bahwa ada 2 pihak di sekitarnya. Ia tahu ia akan dibela oleh neneknya dan akan nenek adalah pihak yang lebih menyenangkan untuknya karena selalu menuruti keinginannya.

Ada beberapa kasus lain lagi yang cukup berat menurut saya. Yang 1 adalah anak yang mengambil barang dari rumah neneknya dan mengatakan yang menyuruh adalah ibunya, tapi kepada ibunya ia mengatakan diberi oleh neneknya. Hal ini dapat menimbulkan salah paham di keluarga dan ‘adu domba’ antara ibu dan nenek. Kasus yang lain lagi, seorang anak yang mengatakan ibunya keras padanya dan dengan memelas meminta perlindungan neneknya sehingga nenek menegur sang ibu. Namun menurut versi ibu, ia hanya ingin menegakkan disiplin dengan meminta anak melakukan tugas tertentu.

Hal ini pun terjadi pada saya. Menurut saya, anak saya yang berusia 4 tahun saat itu sudah terlalu besar untuk digendong. Jangan dibiasakan untuk menggendongnya. Namun ternyata bila saya kerja, setiap ia menangis, kakeknya menyuruh pembantu saya untuk menggendongnya. Alhasil, suatu saat ia sedang gendong pembantu saya ketika saya pulang kantor. Melihat kelebat saya, ia langsung meloncat turun dari gendongan pembantu saya. Alasan pembantu saya bila saya tegur adalah,”Lha namanya juga anak kecil. daripada nangis?” Ia memiliki tanggung jawab moral menjaga anak saya dan membuatnya tetap nyaman selama saya tidak ada. oleh karena itu ia melakukan segala cara, bahkan cara yang saya larang. Inilah masalahnya, saya bilang padanya itu sama saja mengajari anak saya berbohong dan memanipulasi aturan yang sudah saya berikan.

Perbedaan pola asuh menjadi masalah yang lebih rumit lagi ketika melibatkan menantu vs mertua.  Seperti kita tahu,masih banyak menantu yang kesulitan menghadapi mertua. Ketika mertua mengatur kehidupan anaknya, secara tidak langsung ia mengatur kehidupan menantu dan cucunya sekaligus. Sayangnya, pola asuh yang tidak disetujui menantu tidak bisa diungkapkan kepada mertua karena sungkan, tidak enak maupun takut. Jadilah anak (cucu) berada di tengah-tengah pola asuh yang berbeda antara kakek-nenek dan ayah-ibu.

Kalau itu yang terjadi, sebisa mungkin komunikasi harus dilakukan. Bila sebagai menantu (istri) tidak bisa memberitahu mertua, mungkin bisa dicoba sang anak (suami) yang mencoba memberitahu ayah (kakek) atau ibunya (nenek).Bila tidak mempan juga, bisa mencoba saudara yang lebih tua, yang dipercaya oleh kakek-nenek untuk memberitahu.

Masa depan anak-anak di tangan orang-orang di sekelilingnya. Pola asuh yang berbeda akan terasa dampaknya di masa mendatang.Rasa yang dijustifikasi sebagai sayang di masa sekarang, dapat menjadi bumerang di masa depan bila tidak diberikan secara konsisten oleh berbagai pihak.