Pentingnya Keseimbangan Kecerdasan

2013-01-05 16:30

Penulis: Syahrifa Yulia Nurmalasari                 Editor:   Esti Ariani

Rumah merupakan tempat belajar yang paling lengkap. Di dalam rumah pula kita mendapatkan pelajaran pertama kita mulai dari sikap, agama maupun pengetahuan umum. Banyak orang berasumsi bahwa belajar hanya bisa dilakukan di sekolah sehingga orang mengesampingkan pendidikan di rumah maupun di lingkungan sekitar.

Pada dasarnya belajar di sekolah hampir sama dengan belajar di rumah, yang membedakan adalah fokusnya. Belajar di sekolah lebih menekankan pada pelajaran formal seperti ilmu alam, ilmu hitung, dan ilmu yang lainnya. Dengan kata lain, dengan belajar di sekolah kita mengasah kecerdasan kita, sementara belajar di rumah dan di lingkungan sekitar mengasah emosi kita. Dari kedua tempat ini kita bisa belajar membentuk sikap baik itu sopan santun, percaya diri, maupun tanggung jawab.

Tingkat kecerdasan manusia umumnya dibagi menjadi tiga, yakni tingkat kecerdasan intelektual, tingkat kecerdasan emosional, serta tingkat kecerdasan spiritual. Sampai sekarang orang masih menganggap kecerdasan intelektual lebih penting dibandingkan dengan kecerdasan emosional dan spriritual.  Sebagai bukti, orang tua lebih senang jika anaknya rangking satu di kelas, bahkan jika nilai pelajaran anaknya tidak sempurna mereka  akan sampai mendaftarkan anaknya ke bimbingan belajar. Jarang sekali kita dengar orang tua mendatangkan guru untuk mengajari kepribadian, etika, akhlak, dan agama untuk anaknya.  Padahal, jika kecerdasan intelektual tidak diimbangi dengan kedua kecerdasan tersebut, anak menjadi sangat rentan dengan dinamika sosial.

Yasmin, bukan nama sebenarnya. Ia langganan rangking di sekolahnya. Di rumah tugasnya hanya belajar dan belajar. Suatu saat ada tamu berkunjung ke rumah, ia kemudian berteriak “ada orang datang!” kepada yang ada di rumah, tanpa mau menengok, menyapa, menanyai, dan mempersilakan si tamu. Tentu saja apa yang dilakukan si Yasmin ini pasti membuat malu penghuni rumah.  Anda tentu tidak ingin mempunyai anak seperti ini bukan?           

Bukan berarti kecerdasan intelektual tidak penting bagi kita, namun kita harus mengimbangi kecerdasan tersebut dengan kecerdasan emosional dan juga spritual. Seseorang jika hanya menonjol di sisi intelektualnya saja cenderung tidak bisa bersosialisasi dengan yang lainnya, bahkan kurang bisa mengendalikan emosinya jika berhadapan dengan suatu masalah.  Ia juga akan mudah "rapuh’"menghadapi hidup dan karirnya, apalagi  saat mengalami kegagalan.

Menurut Goleman, kecerdasan intelektual (IQ) hanya menyumbang 20% bagi kesuksesan, sedangkan 80% adalah sumbangan faktor kekuatan-kekuatan lain, diantaranya adalah kecerdasan emosional atauEmotional Quotient (EQ) , yakni kemampuan memotivasi diri sendiri, mengatasi frustasi, mengontrol desakan hati, mengatur suasana hati (mood), berempati serta kemampuan bekerja sama. Untuk bisa sukses baik dalam karir maupun dalam kehidupan, kita harus pandai menyeimbangkan kecerdasan kita. Amatilah diri Anda sendiri, rasakan mana yang menurut Anda kurang sehingga Anda bisa meminimalisasinya.

Kecerdasan tidak hanya berperan dalam karir seseorang, tetapi juga dalam kehidupan berumah tangga. Bisa Anda bayangkan apa yang akan terjadi bila pasangan dalam rumah tangga tidak bisa saling menghargai, cepat putus asa, dan tidak bisa mendengarkan atau bahkan tidak sabar? Kecerdasan emosional dan spiritual sangat berperan dalam kehidupan rumah tangga. Dengan kecerdasan tersebut kita bisa menghadapi pasangan dan anak kita. Selain itu kita bisa menyemangati mereka berdua hingga mengarahkan mereka untuk menjadi pribadi yang menarik. Dengan adanya saling pengertian dari masing-masing, kehidupan rumah tangga akan harmonis.

Sekarang kita bisa menyimpulkan bahwa kecerdasaan sangat berperan dalam setiap sisi kehidupan.  Bagaimana dengan Anda?   Apakah masih mengagungkan kecerdasan IQ?